PAGELARAN SENI & TEATER 2025
Pagelaran seni dan teater di SMAN 1 kota Probolinggo adalah kegiatan tahunan yang bertujuan untuk menyalurkan bakat seni dan teater siswa-siswi SMASA. Acara ini yang di gelar hari Kamis 18 Januari 2025 ini sangat di nantikan oleh penonton yang terdiri seluruh warga SMASA dan sekolah luar. Karena pertunujukkan seni SMASA selama ini memang tidak pernah gagal dari totalitas para peserta hingga panitia penyelenggara acara ini. Maya sebagai ketua panitia acara ini menyebutkan bahwa jumlah kepanitiaan hingga 100 lebih siswa yang terdiri dari OSIS, MPK, siswa ekstra TRESSA ( Teater Arek SMASA), siswa ekstra SPC ( SMASA Photo Cinema) dan siswa ekstra membatik serta para partisipan (siswa) non ekstra. Boleh di bilang acara ini adalah acara puncak dari semua kegiatan yang ada di SMASA karena ide-nya murni dari siswa. Para partisipan sangat memanfaatkan moment seperti ini agar mendapat pengalaman dan pembelajaran yang berharga ketika bergabung kedalam sebuah kepanitiaan yang akan datang. Pagelaran Seni Teater 2025 ini mencapai angka 650 penonton baik dari luar maupun dalam smasa bahkan juga mengundang Komunitas Teater Dekik dari SMAN 1 Kraksaan (Matura). Pagelaran ini terdiri dari teater, pameran photo, pameran lukisan hingga batik yang di hasilkan siswa-siswi SMAN 1 kota Probolinggo. Penampilan Teater tahun ini ditampilkan oleh anggota TRESSA kelas 10 secara keseluruhan dan merupakan penampilan pertama dari mereka. Cica sebagai sutradara dan Tiara sebagai penulis naskah teater menceritakan pelajaran yang di petik dari teater kali ini adalah tentang identitas, kebahagiaan dan tujuan hidup. Bagaimana seseorang dapat kehilangan dirinya dalam upaya membahagiakan orang lain. Pesan untuk kita, ‘menemukan kebahagiaan sejati datang dari menerima dan mencintai diri sendiri’.

Kisah tentang seorang badut bernama Asa yang selalu tampil ceria dan penuh tawa. Namun di dalam hatinya, ia menyimpan pergulatan batin yang mendalam. Awalnya Asa adalah seseorang dengan penuh harapan yang ingin mengubah dunia dengan tawa, namun kini ia mulai meragukan makna dari perannya. Asa merasa semakin terasing dari dirinya sendiri, seolah kehilangan identitas di balik topeng badut yang selalu ia kenakan. Dalam pencarian makna hidup Asa bertemu dengan berbagai karakter yang mewakili berbagai sisi kehidupan dan hatinya. Setiap pertemuan memberikan pencerahan sekaligus kebingungan baru, hingga akhirnya Asa harus memilih antara terus berperan sebagai badut yang menyembunyikan duka atau menghadapi dunia dengan wajah aslinya. Kisah ini menggali tema identitas, kebahagiaan, dan tujuan hidup, serta bagaimana seseorang dapat kehilangan dirinya dalam upaya membahagiakan orang lain, hanya untuk menemukan bahwa kebahagiaan sejati datang dari menerima dan mencintai diri sendiri
