‘Jepang’ Negeri Well Being
Setibanya di Jepang, perasaanku campur aduk—senang, gugup, dan kagum. Aku datang bersama 5 teman lain dari berbagai daerah kota-kota besar di Indonesia sudah fasih berbahasa Jepang. Tentu saja aku sempat minder. “Bisa nggak ya aku ngimbangin mereka?” Tapi pelan-pelan, aku sadar bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang paling mau belajar dan terbuka terhadap pengalaman. Di pertemuan pertama, aku mulai membuka diri, mencoba berbicara bahasa Jepang dengan siapa pun: teman-teman dari negara lain, sensei di sana, keluarga homestay, dan bahkan teman-teman dari sekolah Jepang. Percayalah, kekhawatiran-kekhawatiran tadi akan sirna seiring dengan langkahku yang terus maju. Setiap menit dan detik di sana memberiku banyak kenangan indah bersama teman-teman dan keluarga homestay yang sama sekali tidak kusesali.
Meskipun hanya berlangsung sekitar 2 minggu, aku belajar banyak hal baru selama di Jepang. Bukan cuma tentang seragam anak sekolah yang kawaii atau minimarket yang serba lengkap itu, tapi aku juga belajar tentang budaya, empati, tanggung jawab, dan disiplin. Di Jepang, hampir semua orang sangat menghargai waktu. Terlambat 30 detik saja, kamu sudah bisa ketinggalan bus, kereta, atau bahkan kereta cepat. Hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata berdampak besar.

Selama 2 minggu di sana, kami diajarkan tentang well-being. Dalam bahasa Jepang “Well-being wa jibun mo, minna mo, ima mo, mirai mo, shiawase na sekai desu” yang berarti “Dunia yang sejahtera baik untuk diri sendiri, untuk orang lain, di masa sekarang, ataupun di masa depan.” Salah satu contoh kecil well-being yang kami pelajari adalah kemudahan akses fasilitas ramah disabilitas di Jepang. Mulai dari trotoar yang dilengkapi braille, tanjakan landai untuk pengguna kursi roda, lift khusus disabilitas, hingga keterangan ingredient di berbagai menu makanan sebagai bentuk muslim friendly. Dengan begitu, semua orang bisa merasakan hidup sejahtera tanpa terkecuali. Nah, dari sini kami bersama-sama merenungkan, “Apakah negara atau kota kita sudah mencapai well-being? Atau masih dalam proses?”
