February 4, 2026

SMA Negeri 1 Kota Probolinggo

Sekolah Penggerak

Juara 3 Lomba Sosialisasi/Pidato PILWALI Se Kota Probolinggo

Pagi itu aula sekolah terasa lebih dingin dari biasanya. Aku dan Callysta sudah duduk di pojok sejak jam tujuh, membawa tripod yang agak berderit dan selembar skrip yang penuh coretan. Kami harus merekam video untuk babak penyisihan lomba sosialisasi Pilwali se-Kota Probolinggo. Temanya terlalu serius untuk suasana hatiku pagi itu, tapi Callysta hanya tersenyum kecil sambil bilang, “Tenang saja, kamu bisa.” Aku masih ingat bagaimana ia berdiri di belakang kamera, menghitung sampai tiga, sementara aku berdiri di tengah aula yang kosong, menyusun kata-kata dalam tiga bahasa sekaligus, Indonesia yang tegas, Inggris yang mantap, dan Prancis yang pelan-pelan terasa seperti melodi. Setelah take terakhir selesai, Callysta hanya menatapku sebentar, mengangguk pelan, seolah-olah semuanya sudah cukup dari awal. Dan pada saat kukirim videonya hari itu juga, ada sesuatu di dadaku yang terasa lebih hangat dari sekadar rasa lega. Beberapa hari setelahnya aku dipanggil ke final di GOR Kedopok. Malam itu dingin, jalanan kota seperti tidur lebih cepat, tapi lampu-lampu GOR menyala terang seakan sedang menunggu kami. Suasana final jauh lebih riuh, tapi entah bagaimana aku tetap berdiri di panggung dengan nada yang sama: tiga bahasa, satu suara. Besok malamnya, saat hasil diumumkan, namaku disebut sebagai juara tiga. Di antara sorak kecil penonton, aku menoleh ke arah Callysta yang berdiri di belakang kerumunan. Dia tidak bertepuk tangan keras-keras seperti yang lain, hanya mengangguk kecil sambil tersenyum begitu lembut, dan aku menangkap tatapannya yang seolah berkata: “See? You’ve always had it in you.” Dan dalam hati, aku tahu, malam itu bukan cuma tentang memenangkan piala, tapi tentang belajar mencintai suara sendiri, dalam bahasa apa pun aku mengucapkannya.