Seperti Apa Rasanya Lomba
Haii.. apa kabar kamu hari ini?.. adakah yang sedang galau menghadapi kompetisi?.. padahal hidup ini adalah sebuah kompetisi. Tanpa di sadari, sesungguhnya kita telah memenangkan kompetisi ribuan kali bahkan bisa jadi jutaan kali atau bahkan tak terhingga jumlah kompetisi yang kita lalui. Bagaimana bisa? Setiap gerak positif yang kita lakukan dan terutama terasa berat adalah kompetisi. Kompetisi dengan energy negative diri sendiri. Bangun tidur terasa berat, mandi pagi terasa berat, berangkat sekolah hingga belajar apa lagi nah itu adalah tantangan yang kita hadapi sehari-hari. Cobalah paksakan lagi usahamu dan buatlah pengakuan dunia bahwa kamu ada dan kamu bisa! Seperti pengalaman Arka mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris yang di selenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Jawa Timur, Pidato PILWALI se Kota Probolinggo, Debat Pendidikan Bahasa Indonesia Se Jawa Timur dan Lomba Video 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Se Jawa Timur.
Di ruang OLC sekolah yang lengang siang itu, aku dan temanku Viona duduk berdua menyiapkan diri untuk take video lomba pidato Bahasa Inggris MGMP Jawa Timur. Kamera sudah siap di tripod, teks sudah kulipat kecil-kecil di tangan, dan lampu ruangan terasa terlalu terang untuk hati yang sedang nervous. “Kita bisa, kok,” bisik Viona sambil tersenyum, meski aku tahu dia sama gugupnya. Rasanya lucu, bicara sendiri di depan kamera sambil membayangkan ratusan peserta lain di seluruh Jawa Timur sedang melakukan hal yang sama. Berkali-kali kami bergantian merekam, mengulang saat salah ucap, memperbaiki intonasi, sampai rasanya capek sendiri. Di sela-sela jeda, kami saling memberi semangat meski di dalam dada masing-masing terasa seperti siput kecil yang takut keluar dari cangkangnya. Beberapa minggu kemudian, hasil lomba diumumkan. Di layar ponselku, namaku terpampang di peringkat ketujuh dari tiga ratus peserta. Lama aku menatapnya, tidak yakin, lalu perlahan senyumku mengembang. Viona yang duduk di sebelahku waktu itu ikut bersorak kecil, “Lihat, kan? Kamu bisa!” Dan saat itu aku merasa benar-benar seperti siput yang berhasil sampai ke ujung jalan, meski jalannya pelan dan penuh ragu. OLC yang dulu hanya jadi saksi gugup kami berdua, kini jadi ruang penuh kenangan manis. Bersama Viona, aku belajar bahwa perjalanan yang lambat pun tetap berarti, asal kita tetap maju meski kaki kecil ini terasa berat melangkah.
