January 29, 2026

SMA Negeri 1 Kota Probolinggo

Sekolah Penggerak

Earlita Runner Up 1 Putri wastra Jawa Timur

Earlyta Azaria Setiyawan lahir di Probolinggo, 26 November 2007 silam. Saat ini duduk di bangku kelas XII SMAN 1 kota Probolinggo. Perjalanan Earlyta menjadi Putri Wastra Jawa Timur bukanlah cerita semalam, dimulai pada Mei 2025 Earlita harus menempuh dua tahap awal yaitu seleksi administrasi dan penulisan esai. Esainya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan kecintaannya pada wastra (Wawasan Nusantara) yaitu Kain tradisional Nusantara yang sarat makna budaya. Ketulusannya membuahkan hasil sehingga melangkah ke tahap semifinal di Malang Creative Center (MCC). Earlyta tampil percaya diri dengan membawakan pemahaman tentang budaya, karakter dan misi yang ingin ia perjuangkan yaitu ‘melestarikan wastra sebagai identitas bangsa’.

Juni 2025, Earlita diumumkan sebagai finalis Puteri Wastra Jawa Timur. Bagi Earlita status ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih menantang. Earlita mengikuti  photoshoot profesional yang menuntut pose elegan dan ekspresi natural, kemudian pra-karantina online untuk mengasah pengetahuan dan akhirnya karantina intensif di Sans FIF-Fa Hotel Malang pada 26 Juli 2025. Di karantina ini Earlita harus berlatih catwalk, teknik presentasi dan juga mengasah wawasan budaya, berdiskusi dengan mentor serta membangun ikatan persahabatan dengan finalis dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Tanggal 27 Juli 2025 menjadi saksi puncak perjuangannya. Sebuah sudut kampus Universitas Brawijaya Malang berubah menjadi panggung megah yang dihiasi lampu-lampu gemerlap, deretan kain wastra dan tepuk tangan penonton. Dengan balutan busana wastra yang anggun, Earlyta  melangkah mantap ke atas panggung. Di hadapan juri dan ratusan penonton, ia menunjukkan perpaduan kecantikan, kecerdasan, dan karakter. Pertanyaan demi pertanyaan ia jawab dengan tenang dan penuh keyakinan. Baginya, wastra bukan sekadar kain. Wastra adalah lembaran sejarah yang menuturkan identitas bangsa dari generasi ke generasi. Ketika namanya diumumkan sebagai Runner Up 1, sorak sorai menggema. Air matanya hampir jatuh. Bukan karena kalah, tetapi karena rasa syukur yang meluap. Earlyta percaya bahwa setiap motif dan warna dalam wastra adalah bahasa yang bisa dibaca, dicerna, dan diwariskan. Dari batik hingga tenun, semua punya cerita. Sebagai generasi muda, ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga agar cerita itu tidak hilang ditelan zaman. Kecintaannya pada wastra tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, ia sering melihat ibunya mengenakan kain batik di acara keluarga. Dari situ, tumbuh rasa kagum yang kemudian berkembang menjadi panggilan hati. “Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kebaikan bagi Probolinggo,”