January 29, 2026

SMA Negeri 1 Kota Probolinggo

Sekolah Penggerak

Mimpi Besar Yang Terwujud

Namaku Darren Fadilan S kelas XI D SMAN 1 Probolinggo, aku bersama M. Brian Hadi kelas XI A, dan Agnes Anindya kelas XI C telah mewujutkan mimpi besar kami berkompetisi di kampus impian ITB (Institut Teknologi Bandung). Kisah ini terjadi ketika kami bertiga masih duduk di kelas X, rasa ingin tahu kami meronta atas prestasi hebat yang di torehkan kakak-kakak di SMAN 1 Probolinggo. Semuanya begitu keren, hebat dan rasanya sangat jauh dari jangkauan. Dari beberapa kompetisi yang kami coba tanpa sengaja kami bertiga lolos hingga babak final. Masih terpatri dalam ingatanku ketika itu, jantung ini berdegup kencang bukan main saat mengetahui bahwa proposal inovasi infrastruktur karya kami berhasil menembus babak final. Bayangkan, kami bersaing dengan 91 tim dari berbagai SMA unggulan se-Indonesia seperti Taruna Nusantara hingga Pradita Dirgantara. Proposal kami tentang inovasi seawall yang terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga gelombang mendapat nilai 95, angka yang cukup untuk meyakinkan juri bahwa kami layak maju menjadi finalis.                                                                                       

Namun, euforia kami segera tersambar dengan realita. Babak final yang akan diselenggarakan di Kampus ITB mengharuskan kami untuk membuat prototipe fisik dalam waktu dua bulan, sebenarnya hal itu bukan menjadi masalah yang besar. Namun, waktu pembuatan prototipe itu ternyata bersamaan dengan pelaksanaan Ujian Akhir Semester dan OSN tingkat kota/kabupaten di mana Aku dan Brian menjadi salah satu pesertanya. Waktu terasa seperti berjalan dengan cepat. Di sela-sela waktu belajar dan persiapan OSN, kami menyempatkan diri setiap minggunya untuk berkumpul dan berdiskusi untuk membuat prototipe. Satu bulan pun berlalu dan progress kami masih belum ada kemajuan yang signifikan. Kami juga rutin berkonsultasi dengan Bu Sukma sebagai guru pembimbing dan Pak Wahib yang akan mendampingi kami selama berkegiatan di Bandung –kebetulan beliau juga menjadi wali kelas kami–. Rumah Agnes menjadi saksi bagaimana perjuangan kami saat itu. Seringkali beberapa teman kami ikut bergabung, baik untuk membantu atau sekedar meramaikan suasana.                                                        

Hal yang tidak terduga terjadi ketika prototipe pertama yang telah selesai kami buat dari kardus berlapis selotip anti air mengalami kebocoran sehingga berubah menjadi lunak saat uji perendaman. Dengan waktu keberangkatan yang tersisa seminggu lagi, kami harus memulai semuanya dari nol. Di minggu terakhir itu kami memutar otak mencari cara dan melakukan berbagai percobaan untuk membuat kardus menjadi tahan air. Pada waktu yang sama, kami juga harus mempersiapkan kelengkapan booth pameran untuk acara di ITB sehingga tak jarang membuat kami harus pulang larut malam. Hari-hari pun berlalu, pada H-1 keberangkatan pun kami masih berkutat dengan berbagai macam masalah yang pada akhirnya baru benar-benar terselesaikan sekitar pukul 12 tengah malam, 1 jam sebelum keberangkatan kami.                                                                                        

Setelah melalui perjalanan panjang, Bandung pun menyambut kami dengan guyuran hujan dan dinginnya malam. Keesokan paginya menjadi awal dari 3 hari perjalanan kami di Bandung. Setelah menyaksikan serangkaian acara pembukaan di Aula ITB, kami diarahkan menuju ruang presentasi bersama 5 tim lainnya yang terdiri dari SMAN 1 Tanjung Pinang, SMAN 1 Magelang, SMAN 8 Jakarta, SMAN 1 Balikpapan, dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Jujur saja, menyaksikan presentasi tim lain dengan karya berbasis IoT mereka yang canggih sempat membuat kami ciut. Hingga tiba giliran tim kami untuk maju, meski ada sedikit kendala teknis, kami berusaha mempresentasikan gagasan kami dengan baik yang pada akhirnya berjalan dengan lancar.

Exhibition menjadi ujian selanjutnya bagi karya kami. Di hadapan khalayak ramai mulai dari akademisi hingga pengunjung umum, prototipe seawall itu akhirnya terbuka untuk dilihat. Untungnya kegiatan berjalan dengan lancar. Tanggal 6 juli menjadi hari terakhir kami di Bandung. Pagi itu kami diarahkan ke aula kampus ITB untuk menghadiri closing ceremony sekaligus pengumuman juara. Saat predikat “Honorable Mention” disebut untuk tim kami, cukup mengiris hati memang mengingat segala perjuangan yang telah kami lalui. Mungkin kami belum ditakdirkan untuk juara. Namun, kami sadar bahwa sertifikat itu menjadi bukti nyata bahwa tiga siswa SMA dari Probolinggo mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan pemikir-pemikir muda terbaik Indonesia. Kami telah melalui pengalaman berharga kami, masih ada dua tahun lagi waktu kami di SMA untuk kembali mewujutkan mimpi besar kami. Semoga Allah SWT selalu memudahkan jalan kami. Aamiin