Dari Rasa Minder Menuju Panggung Prestasi
‘Dari Rasa Minder Menuju Panggung Prestasi’ adalah Perjalanan Seorang Siswa Multitalenta Mengukir Mimpi, kisah inspiratif Niken Wulansari
Prestasi tidak selalu lahir dari kepercayaan diri yang tinggi. Bagi Niken perjalanan menuju berbagai pencapaian justru dimulai dari rasa minder dan kebingungan mengenali potensi diri. Menuurt Niken, dorongan terbesar datang dari orang tuanya yang tidak pernah memaksa tetapi selalu menanamkan satu hal penting: ‘hidup harus punya tujuan’. Dengan jarak usia 16 tahun dari sang adik, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh yang baik. Keinginan untuk membanggakan orang tua menjadi bahan bakar utama dalam setiap langkah perjuangannya. Perjalanan bakatnya dimulai sejak SD. Saat itu, Niken gemar menari dan sering mengikuti lomba serta berbagai acara. Tak hanya berhenti di situ, ia juga sempat mencoba pencak silat. Guru-gurunya melihat potensi yang lebih luas, lalu mendorongnya untuk mencoba bernyanyi dan storytelling. Dari semua itu, bernyanyi justru menjadi bidang yang paling ia cintai hingga sekarang.
Memasuki SMP, bakat menyanyinya berkembang pesat. Ada guru yang percaya padanya dan mengajaknya tampil di berbagai acara, mulai dari tingkat sekolah hingga luar kota. Dari pengalaman itu, ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sering mendengarkan omongan orang lain hingga lupa pada dirinya sendiri. Akibatnya, ia mudah merasa down dan tidak percaya diri. Namun, proses itu juga mengajarkannya untuk bangkit. Perlahan, ia belajar percaya pada kemampuannya sendiri. Salah satu pencapaian terbesar di bidang tarik suara adalah saat berhasil meraih Juara 2 FLS2N. Tak hanya di dunia musik, ia juga menemukan passion baru di bidang videografi melalui ekstrakurikuler jurnalistik. Pembina jurnalistik mendorongnya terjun langsung ke dunia liputan, event, dan produksi video untuk YouTube sekolah. Selama SMP, kemampuan editing videonya berkembang pesat. Ia bahkan terlibat dalam produksi film dokumenter Museum Kota Probolinggo dan menjadi editor video angkatan.
Saat masuk SMA, semua pengalaman itu ia jalani dengan lebih serius. Ia mengikuti ajang SMA Award Sinematografi dan terlibat penuh sebagai sutradara, pemeran, penulis naskah, sekaligus editor. Meski belum berhasil meraih juara, ia merasa bangga karena mampu mengeksekusi karya dari awal hingga akhir. Selain itu, ia juga mencoba hal baru sebagai MC dan tetap aktif bernyanyi di ekstrakurikuler sekolah. Sejak saat itu, banyak orang mulai menyebutnya sebagai siswa “multitalenta”. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Tantangan terbesarnya adalah rasa minder dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ia mengaku masih belajar meninggalkan kebiasaan itu sedikit demi sedikit dengan mulai percaya pada diri sendiri dan yakin bahwa setiap orang memiliki kemampuan masing-masing. Baginya, kunci meraih prestasi adalah keberanian untuk mencoba. Ia berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menjajal hal baru meskipun merasa belum jago.
“Semua orang mulai dari nol. Yang penting konsisten, mau belajar, dan jangan gampang menyerah. Fokus saja pada proses diri sendiri, bukan pada pencapaian orang lain,” pesannya. Saat Niken ditanya tentang perasaannya ketika meraih prestasi, jawabannya sederhana namun penuh makna. Ia merasa sangat senang dan bersyukur karena bakatnya bisa tersalurkan. Prestasi yang diraih justru menjadi pemicu untuk terus mencari pengalaman baru dan berkembang ke depannya. Dari seorang anak yang mudah minder, kini ia tumbuh menjadi pribadi yang berani tampil, berkarya, dan bermimpi. Perjalanannya membuktikan bahwa prestasi bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang mau terus belajar dan tidak berhenti melangkah.
Terima kasih Niken atas inspirasinya, semoga menjadi pemacu teman-teman SMASA untuk berprestasi. Dan untuk Niken, penglaman ini pasti menjadi batu pijakan untuk melesat lebih tinggi. Sampai jumpa di inspirasi anak SMASA selanjutnya
