Figo Bramantya
Sebuah pepatah mengatakan bahwa hasil tidak akan mengkhianati niat yang kuat. Hal inilah yang dibuktikan oleh Figo Bramantya siswa berprestasi dari SMAN 1 Kota Probolinggo dalam ajang bergengsi History Competition (Hicom) Season X yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Perjalanan Figo meraih gelar Juara 3 Nasional ini bukanlah perkara mudah, melainkan sebuah perjuangan melawan keraguan dan keterbatasan waktu.
Keinginan Figo ingin mengikuti kompetisi Hicom telah ada sejak awal ia masuk SMA pada tahun 2024. Namun, niatnya harus tertunda karena adanya kesibukan lain, dan baru terealisasikan pada tahun 2025 ketika ia melihat kompetisi tersebut diadakan kembali melalui sosial medianya. Meski sempat dilanda keraguan karena jadwal yang berbenturan dengan ujian sekolah, lomba paduan suara di Malang, serta agenda Duta Museum. Hingga akhirnya ia berani memutuskan untuk daftar mengikuti lomba tersebut dengan sebuah prinsip sederhana yang menjadi pemantik semangatnya : “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ingin mencoba?”
Tantangan terbesar muncul saat babak penyisihan dan semifinal. Akibat manajemen waktu yang sulit di tengah berbagai kegiatan, persiapan belajar hanya bisa dilakukan Figo pada H-2 penyisihan dan bahkan H-1 menjelang semifinal. Di tengah rasa takut akan kekalahan dan tanggung jawab moral kepada orang tua yang telah mengantarkannya ke Surabaya, strategi cerdas pun diterapkan. Figo memilih fokus pada soal esai yang memakan waktu lama dan melewati soal sulit untuk dikerjakan di akhir, sebuah langkah taktis yang berhasil membawanya melaju ke babak final.
Puncaknya, di babak final yang menggunakan sistem cerdas cermat, Figo harus berhadapan dengan peserta hebat dari berbagai daerah, bahkan dari luar Jawa Timur. Meski sempat merasa minder melihat kepercayaan diri lawan, tekad untuk “tidak pulang dengan tangan kosong” menjadi bahan bakar utama bagi Figo. Kerja keras dan ketenangannya, akhirnya berbuah manis dengan raihan Juara 3 Tingkat Nasional. Kemenangan ini bukan sekadar tentang trofi, tetapi tentang pengalaman berharga bagi Figo karena dapat bertemu dengan sesama pencinta sejarah dari seluruh penjuru negeri. Bagi Figo, kunci utama dalam sejarah adalah membaca, namun yang jauh lebih penting adalah memiliki tujuan (goals) dan niat sejak awal. Prestasi ini pun menjadi acuan bagi Figo untuk target yang lebih besar : kembali bersaing di Hicom 2026 dengan persiapan yang lebih matang hingga membawa pulang piala juara 1.
